Friday, January 24, 2014

Puasa dalam Perspektif Psikologi

this is my final assignment at islam and psychology
i was stressed when this deadline come so fast but i didn't write anything -_-
i tried to write something. and finaly this is what i wrote

------------------------

PUASA DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI
Oleh : Laily Inayah (1110070000014)

PENDAHULUAN
Sebelum membahas tinjauan psikologis mengenai puasa, lebih dahulu harus kita sadari bahwa puasa adalah tindakan ibadah. Sebagai tindak ibadah yang digolongkan pada rukun keempat dari Rukun Islam yang kelima, puasa merupakan salah satu bentuk pengabdian dan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT yang pada dasarnya adalah pekerjaan ruhani,  sekalipun dalam pelaksanaannya juga melibatkan perbuatan jasmani, kejiwaan dan sosial. Perintah puasa difirmankan oleh Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Inti perintah untuk menjalankan ibadah puasa bagi umat islam adalah pengendalian diri atau self-control. Pengendalian diri merupakan salah satu komponen utama bagi upaya perwujudan kehidupan jiwa yang sehat.

Dalam perspektif ilmu psikologi dan kesehatan mental, kemampuan mengendalikan diri merupakan indikasi utama sehat tidaknya kehidupan rohaniah seseorang. Orang yang sehat secara kejiwaan akan memiliki tingkat kemampuan pengendalian diri yang baik, sehingga terhindar dari berbagai gangguan jiwa ringan apalagi yang berat. Manakala pengendalian diri seseorang terganggu, maka akan timbul berbagai-reaksi-reaksi pathologis dalam kehidupan alam pikir (cognition), alam perasaan (affection) dan perilaku (psikomotorik). Bila hal ini terjadi maka akan terjadi hubungan yang tidak harmonis antara diri individu dengan dirinya sendiri (conflik internal) dan juga dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Dengan demikian maka orang yang jiwanya tidak sehat keberadaannya akan sangat mengganggu dirinya sendiri, juga menggangu lingkungan sekitarnya. Puasa dan Pengendalian Diri “Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji.” (Hadist Riwayat Buhari).

PENGERTIAN PUASA
Saum atau puasa dalam islam secara bahasa artinya menahan atau mencegah. Menurut syariat agama Islam artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.

MANFAAT PUASA
Allah SWT mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan, bulan dimana Al-Qur’an diturunkan, karena puasa itu memiliki pengaruh-pengaruh yang positif dan manfaat-manfaat yang besar di dunia dan di akhirat. Puasa itu dapat mengendalikan jiwa dan memadamkan nafsu-nafsunya. Jika nafsu itu kenyang, ia akan merajalela mengajak pada kejahatan. Tetapi jika ia lapar maka ia akan mudah ditundukan. Rasulullah SAW bersabda,
“Wahai kaum muda, barang siapa di antara kalian merasa sudah punya bekal hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu dapat memejamkan pandangan mata dan menjaga kehormatan. Dana barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapaat meredam nafsu”
Menurut Rasulullah SAW, puasa itu mampu mengekang nafsu, sehingga mencegah dirinya untuk berbuat kezhaliman dan kejahatan. Puasa adalah cara yang paling ampuh untuk mencegah nafsu dari berbuat maksiat.

Selain itu, puasa sekaligus merupakan cara yang paling efektif untuk memperbaiki dan mendidik jiwa. Puasa mendidik seseorang untuk menjunjung tinggi kejujuran dan kesetiaan, mondorong untuk bersabar menghadapi kesulitan-kesulitan. Jika sifat-sifat terpuji tadi mampu menyelematkan seseorang memakan barang-barang halal yang dibutuhkan demi mencari keridhaan Allah dan takut pada siksa yang pedih, apalagi menyelamatkannya dari barang-barang haram yang tidak dibutuhkan, sehingga orang yang berpuasa lalu tidak mau berdusta, tidak mau berkhianat, tidak mau melanggar janji, tidak mau berbuat pamrih, dan seterusnya. Puasa selain menyebabkan orang menjauhi larangan-larangan-Nya, juga dapat menguatkan tekad dan mendorongnya melakukan hal-hal yang nista. Semua itulah yang diisyaratkan oleh Allah dengan firman-Nya, “agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah; 183)

Puasa dapat mendorong orang untuk mensyukuri nikmat, karena ia mampu mencegah seseorang mengkonsumsi makanan dan minuman serta menggauli istri. Semua itu merupakan nikmat-nikmat utama yang dianugerahkan Allah kepada makhluk-Nya. Menahan diri dari semua nikmat tersebut selama seharian penuh akan memperkenalkan seseorang akan kadar dirinya. Sebab orang baru akan menyadari keutamaan suatu nikmat manakala hal tersebut hilang darinya. Sehingga ia lalu bergerak untuk mensyukurinya dan mensyukuri nikmat itu merupakan hukum yang wajib..

Sesungguhnya puasa itu mendorong seseorang untuk menyayangi orang-oraang yang miskin dan mengasihi orang-orang yang dalam kesusahan. Sebab apabila seseorang itu suatu saat mengalami kelaparan, ia akan ingat pada orang yang selalu kelaparan setiap saat. Sehingga ia lalu segera mengasihi dan berbuat baik kepadanya.

Puasa juga dapat menjaga tubuh dari berbagai kuman dan bakteri yang membahayakan serta dapat menyembuhkan dari berbagai penyakit. Banyak manfaat kesehatan yang daapat diperoleh dari berpuasa dan hal itu telah dibuktikan dalam berbagai penelitian.

Pada dasarnya, tubuh seseorang itu berpotensi untuk berkembang dan meningkaat. Setiap tahun perlu adanya upaya-upaya pendukung agar menjadi semangat, kuat dan terhindar dari berbagai penyakit. Dan satu-satunya cara adalah dengan mencegahnya tidak makan terus-menerus. Seorang dokter yang pintar pasti akan meminta pasiennya untuk menghindari makanan tertentu agar pembuluh darahnya bersih sehingga bagus menerima obaat. Demikian pula halnya dengan puasa, ia akan sanggup membersihkan pembuluh darah seseorang dari kemaaksiatan sehingga mudah untuk dimasuki rahmat.

PUASA DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI
Puasa merupakan salah satu perilaku manusia yang merupakan bentuk ritualistik dalam teori stark tentang aspek aspek dari religiusitas.ritual puasa ini ada pada setiap agama. puasa merupakan bentuk ritual menahan untuk tidak makan dan minum serta menahan dorongan nafs. dalam kajian psikologi psikoanalisa disebutkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk memperturutkan dorongan ID nya yang bersumber dari kebutuhan fisik.
a.       Puasa dalam kajian teori psikoanalisa
Kenapa ritual puasa ini penting bagi perkembangan psikis seseorang, tidak lain proses “menahan” inilah yang menempatkan puasa menduduki ritual penting. Menahan untuk tidak makan dan minum menjadikan superego lebih kuat dalam diri seseorang serta memperkuat ego agar tidak mengikuti dorongan dorongan biologis yang mengarah kepada kepuasan dan kenikmatan (pleasure principle). Konstelasi kejiwaan yang demikian akan menyebabkan kehidupan psikis secara keseluruhan lebih baik (psichological well being).
Perkembangan superego sebagai kekuatan moral dan etika pertama kali dimulai proses  ”menahan” yaitu pada saat si Anak mulai diajarkan “toilet trainning” dimana anak di ajarkan “menahan” dari buang air kecil dan air besar agar membuangnya ditempat yang bermoral yaitu toilet.  Dari sinilah si anak mulai mengenal adanya salah dan benar, baik dan buruk, mengenal adanya etika atau tidak, bermoral atau tidak, sehingga berawal dari dasar inilah penanaman etika lainnya mulai bisa terapkan secara bertahap.
b.      Puasa dalam kajian teori Maslow
Maslow mengatakan perilaku manusia dimotivasi oleh sesuatu yang mendasar. Secara berurutan, dari bawah yaitu fisiologi (makan, minum, seks), rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktulisasi diri. Puncak tertingginya adalah aktualisasi diri. Seorang manusia sudah tidak berpikir tentang harga diri, jika dirinya bisa menuangkan idealisme, berkonsentrasi penuh dalam aktivitas yang dicintainya. Sebaliknya, motivasi dasar seorang manusia yang melakukan tindak pencurian, mayoritas adalah karena rasa lapar. Ketiadaan bahan makanan membuat mereka termotivasi mengambil yang bukan haknya. Gerombolan perampok selalu diawali karena kepapaan kolektif, kemiskinan yang marak menggejala. Sehingga selalu saja, alasan tindak kejahatan mayoritas adalah soal ekonomi yang minim. Seorang pencuri ketika digelandang polisi, mungkin masih bisa tersenyum bahkan tertawa-tawa. Hal itu, karena dia tidak membutuhkan rasa aman atau harga diri. Bandingkan dengan mayoritas kita yang menyelamatkan muka dari malu adalah tindakan yang utama. Digelandang polisi adalah sebuah hal yang sangat memalukan. Gengsi itu bagian dari piramida ketiga Maslow.
Di sini muncul sebuah kesimpulan, harusnya rasa lapar menimbulkan efek kemarahan atau keinginan memberontak. Ini logika umum yang terjadi dalam kasus pencurian. Rasa lapar menciptakan imajinasi dan keinginan yang sewaktu-waktu laten bisa muncul dalam diri seseorang. Tetapi, yang menjadi ambigu adalah ketika seorang muslim berpuasa (yang artinya berada dalam kelaparan selama sehari penuh), justru menciptakan ketenangan. Di wilayah ini, teori Maslow mendapat sanggahan secara praktikal dari kalangan Muslimin. Karena justru dalam praktik sejarah, banyak sekali para pelaku jalan spiritual melakukan tindak kelaparan ini untuk menaikkan derajat kemanusiaan, menghaluskan budi, menerawang masa depan, menjernihkan nurani dan mencapai posisi muthmainnah (ketenangan) batin. Mereka yang disebut sufi menjadi lapar dan sekaligus soleh. Justru bukan brutal, marah atau anarkis.
c.       Sharpening The Saw
Di Barat, banyak orang yang belum memahami inti dari (ibadah) puasa dalam Islam. Mereka mengira pemeluk Islam yang bersengaja mengosongkan perut seharian penuh adalah para penganut mashocist, yaitu kaum yang suka menyakiti diri sendiri. Penjelasan rasional apapun belum bisa diterima. Mereka akan diam jika seorang muslim katakan, saya seorang mashocist. Karena memilih untuk menganut sebuah praktik kehidupan adalah bagian dari demokrasi personal yang harus dihormati. Padahal, pemahaman itu sangat salah. Ramadan adalah saat di mana terjadi pengasahan kepekaan spiritual dan intelektual. Siklus hidup diatur sedemikian rupa, laku ritual dinaikkan intensitasnya. Di saat bersamaan ledakan keinginan negatif dilakukan dengan ketat. Menjadi lapar adalah pilihan, tapi berbeda dengan lapar biasa, dalam Ramadan warna, nilai dan spirit yang dikedepankan adalah ihsan. Perasaan selalu berada dalam pengawasan Tuhan.
Itulah sebabnya, teori yang memiliki korelasi dengan puasa justru adalah langkah ketujuh dari The Seven Habits: The Most Effective People (1997) karangan Steven R Covey, yaitu “mengasah gergaji” (sharpen the saw). Kebiasaan mengasah gergaji dihasilkan dari kemampuan pembaruan diri yang diaktualkan secara optimal. Dikatakan kebiasaan efektif karena dengan terus mengasah gergaji (baca: pengembangan diri) dapat mengurangi kemungkinan yang menyebabkan kegagalan atau kelambanan menyelesaikan masalah akibat perubahan keadaan.
Salah satu kebiasaan efektif yang mampu merubah manusia menjadi berhasil adalah kemampuannya untuk mengasah terus menerus segala tools of life yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Termasuk dalam hal ini adalah jasad, kepekaan intelektual dan ruh spiritual. Model pelatihan itu sudah didesain sedemikian rupa berbentuk siklus tahunan.
Kehidupan adalah panggung masalah. Banyak profesional di dunia modern setelah mendapatkan seluruhnya, justru mengalami kegamangan. Padahal kebutuhan fisiologis (rumah, makana, minum, seks, dll) serta hierarki Maslow di atasnya sudah terpenuhi. Bahkan mereka sudah beraktualisasi diri, yaitu tingkat tertinggi dari hierarki Maslow. Puasa Ramadan benar-benar menjadi arena penyadaran. Dalam satu bulan siklus tahunan itu, disadarkan bahwa makan, minum dan seks bukanlah kebutuhan utama. Puasa meningkatkan derajat kebutuhan manusia kepada jenjang yang lebih tinggi, yaitu “pengabdian total pada Tuhan”. Sayang, motivasi ini tidak tertera dalam puncak piramida Maslow.
Tetapi untunglah, sempat diceritakan dalam buku Stephen R Covey dan Roger Merill yang berjudul First Things First (sekuel Seven Habits), Maslow dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya (wafat 1970), telah merevisi teorinya tersebut. Menurut Covey, Maslow mengakui bahwa aktualisasi diri (self actualization) bukanlah kebutuhan tertinggi. Namun masih ada lagi yang lebih tinggi, yaitu self transcendence atau hidup itu mempunyai suatu tujuan yang lebih tinggi dari dirinya. Mungkin yang dimaksud Maslow adalah kebutuhan mencapai tujuan hidup bertuhan dan beragama, atau yang sekarang lebih dikenal sebagai kebutuhan spiritual. Tujuan tertinggi manusia hidup sejatinya adalah self transcedence. Membersihkan nurani, membebaskan keinginan negatif dan mendamba perjumpaan hakiki dengan Yang Kuasa.

MELATIH ANAK-ANAK UNTUK BERPUASA
Berpuasa merupakan ibaddah yang dirasakan berat bagi sebagian, lebih-lebih jika ibadah ini tidak dibiasakan sejak masa anak-anak. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendidik dan membiasakan anak-anak berpuasa, walaupun anak-anak dibebaskan dari kewajiabn puasa mengingat  tubuhnya masih benar-benar membutuhkan makanan dan mereka belum memahami makna puasa. Tetapi mengarahkan dan mendidik anak-anak untuk biasa berpuasa mungkin saja dilakukan, untuk itu perlu terlebih dahulu mengenal sedikit kondisi kejiwaan anak-anak.
Anak-anak yang dimaksud adalah antara umur 3 sampai sekitar umur 11 tahun, yang mencakup tahap-tahap:
a.       Masa Prasekolah         : 3 – 5 tahun
b.      Masa Peralihan            : 5 – 6 tahun
c.       Masa Sekolah              : 6 – 11 / 12 tahun
Masing-masing tahap menunjukan tanda-tanda dan kekhususan sendiri.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam masa ini yaitu;
a.       Suasana lingkungan (keluarga, teman bermain, sekolah) sangat besar pengaruhnya pada anak-anak
b.      Proses peniruan banyak dilakukan oleh anak-anak, baik meniru hal-hal yang baik maupun hal-hal yang buruk.
c.       Corak pemikiran anak-anak masih pada taraf berpikir konkrit, dan masih sulit diajak berpikir abstrak
d.      Proses pembiasaan akan sangat berbekas bila dilakukan sejak kecil
e.       Faantasi dan perasaan sangat dominan pada masa anak-anak.

Pendidikan agama dan melaksanakan ibadah pada umumnya, serta ibadah puasa pada khususnya banyak tergantung dari situasi keluarga.  Anak-anak dari keluarga religious yang secara nyata menjalankan ibadah dan kewajiban-kewajiban agama biasanya lebih mudah menerima ketentuan-ketentuan agama daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang perhatiannya terhadap agama.

Khusus dalam hal puasa, pada anak-anak kecil dengan sendirinya tidak perlu banyak menjelaskan masalah manfaat dan hikmahnya, mereka akan lebih terkesan mengamati contoh-contoh nyata pengamalan ibadah puasa dilingkungan keluarga sendiri. Untuk jelasnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mendidik anak-anak berpuasa;
a.       Biasakan anak melihat anggota keluarganya berpuasa. Jelaskan kepada mereka bahwa anggota keluarganya sedng berpuasa dan tidak boleh makan serta minum pada siang hari.
b.      Ikut sertaka anak-anak berbuka puasa bersama dan ciptakan suasana berbuka puasa bersama dan ciptakan suasa berbuka yang menyenangkan serta penuh keakraban.
c.       Bila tidak mengganggu waktu tidurnya, ada baiknya bila sekali-sekali mengajak anak makan sahur bersama, walaupun mereka tidak puasa.
d.      Untuk anak-anak yang agak besar, bujuklah mereka untuk mencoba berpuasa walaupun tidak sepenuh hari. Berilah pujian dan sediakan makanan / hadiah khusus bila mereka berhasil puasa sampai magrib.
e.       Jangan mengejek, menancam atau menakut-nakuti anak bila ia tidak puasa, karena hal itu akan menimbulkan kesan tak menyenangkan terhadap puasa dan ibadah-ibadah lainnya.
f.       Gembirakan mereka paada hari raya.
Betapa pentingnya membiasakan anak-anak berpuasa dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya sejak dini dalam suasana keagamaan yang baik. Kenangan manis masa kecil pada saat-saat puasa, berbuka dan makan sahur bersama biasanya lekat dengan indahnya dalam ingatan setiap orang. Yang penting dalam hal ini adalah cara mendidik dan suasana kekeluargaan yang akrab dan religious. Dengan demikian, diharapkan perkembangan kepribadian mereka selalu didasari oleh nilai-nilai agama, sehingga tanpa disadari setiap rumah tangga sebenarnya teah menumbuhkan pribadi-pribadi muslim sebagai calon pemimpin-pemimpin masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

As-Sayyid, R. F. (2002). Puasa Sebagai Terapi Penyembuhan Berbagai Penyakit. Jakarta: Hikmah.

Arief, S. (2012, Januari 21). Puasa dalam kajian psikologi. Retrieved Desember 21, 2013, from Syaiful Arief: http://ipulspnpwt.blogspot.com/2012/01/puasa-dalam-kajian-psikologi.html

Bastaman, Hanna Djumhana. (2005). Integrasi Psikologi dengan Islam : Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta : Yayasan Insan Kamil

Mahfuz, Syaikh M.J. (2001). Psikologi Anak daan Remaja Muslim. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Yahman, S. A. (2013, Juli 25). Puasa dalam Perspektif Psikologi dan Kesehatan Mental. Retrieved Desember 21, 2013, from Madani Foundation: http://madanionline.org/puasa-dalam-perspektif-psikologi-dan-kesehatan-mental/

No comments:

Post a Comment